Kamis, 10 Januari 2013

Degung Sunda

Degung Sunda
a. Asal Mula Degung
Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pengajaran Degung, alat musik (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah Goong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan penyangga. Menurut beliau istilah gamelan Degung diambil dari nama alat musik tersebut, yang kini lebih dikenal dengan istilah Jenglong (Tjarmedi, 1974, h. 7).
Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi, dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat, bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng, mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu Goong renteng (Soepandi, 1974, h. 74). Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat), maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak).
b. Istilah Degung
Istilah degung memiliki dua pengertian: pertama, adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda, yaitu
13
gamelan-degung. Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro, baik dari jenis instrumennya, lagu-lagunya, teknik memainkannya, maupun konteks sosialnya; kedua, adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. Machjar Angga Koesoemahdinata. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1), na (3), dan ti (4)). Karena perbedaan inilah, maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda.
Dihubungkan dengan kata degung berasal dari kata ngadeg (berdiri) dan agung (megah) atau pangagung (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. Menurut E. Sutisna, salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung Parahyangan, mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati).
2.3.1 Alat Musik Tradisional Degung Sunda
Istilah waditra khususnya dalam degung dan umumnya dalam Karawitan Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan alat-alat yang digunakan dalam kegiatan berkesenian. Istilah dalam musik instrument. (Kubarsah, 2005, h. 101).
14
1. Bonang
Bonang adalah waditra Jenis alat pukul ber-penclon, terbuat dari bahan logam perunggu yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat bantu pemukul. Bentuk waditra Bonang seperti bentuk Goong, namun penclon-nya berukuran lebih kecil.
Bonang berasal dari kata Bo=bobo atau tidur, Nang= benang. Jika dilihat dari cara pemasangannya, penclon-penclon Bonang diletakkan diatas rentangan benang-benang. Pernyataan ini didasarkan pada kenyataan, sebab setiap penclon Bonang diletakkan seperti tidur terbaring diatas benang-benang. Demikian kondisi semula, namun pada saat ini benang-benang tersebut diganti dengan tali-tali yang terbuat dari kain atau plastik.
a. Bahan dan Rancang Bangun Penclon Bonang
Penclon Bonang yang menjadi sumber bunyi terbuat dari bahan logam perunggu atau besi. Bonang yang baik terbuat dari logam perunggu. Nama-nama bagian Bonang sama dengan nama-nama bagian Goong. Ancak Bonang
Ancak atau rurumah Bonang terbuat dari bahan kayu dan benang-benang. Rurumah dibuat
15
sedemikian rupa sehingga penclon-penclon Bonang dapat ditempatkan dengan baik. Penclon-penclon diletakkan pada rentangan-rentangan benang.
b. Nama-nama Bagian Bonang Soko adalah Kayu yang berperan sebagai kaki penyangga waditra. Benang tali adalah tali-tali sebagai penyangga penclon. Papalayu adalah bagian muka dan belakang waditra. Pongpok adalah Ujung pangkalnya ancak. Palipid adalah bilahan kayu diatas pongpok, sebagai penghalang penclon-penclon.
c. Cara Memainkan
Untuk memainkan Bonang, dipergunakan alat pemukul yang terbuat dari bahan kayu yang dibulatkan dan dibungkus oleh kain yang dililit benang-benang. Kedua alat pukul dipegang tangan sebelah kiri dan sebelah kanan. Alat pukul di-tabuh-kan pada bagian tengah penclon Bonang, untuk mendapatkan bunyi yang cepat.
16
d. Struktur dan Fungsi
Banyaknya penclon pada alat musik Bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah, dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 oktaf. Penclon-penclon ini disusun di atas penyangga, dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain, berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung.
Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua alat musik lainnya. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari alat musik ini (Kubarsah, 2005, h. 89).
Gambar II.3 Bonang
(Sumber:http:/www.datasunda.org/2011/05/bonang_04.jpg)
2. Jenglong
Jenglong adalah waditra ber-penclon dibuat dari perunggu, kuningan atau besi yang berdiameter antara 30
17
sampai dengan 40 cm. Dalam suatu ancak atau kakanco terdiri atas 6 buah kromong. Penclon pada alat musik Jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 oktaf), dengan wilayah nada yang lebih rendah dari Bonang. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada penyangga yang berbentuk tiang gantungan. Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass; penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi Bonang. (Kubarsah, 2005, h. 93).
Gambar II. 4 . Jenglong
(Sumber:http://www.datasunda.org/2011/05/jenglong_02.jpg)
3. Saron
Saron adalah waditra jenis alat pukul ber-bilah, terdiri 7 atau 14 bilah yang terbuat dari bahan logam perunggu yang dimainkan dengan cara dipukul, mempergunakan alat bantu pemukul. Waditra Saron
18
merupakan jenis waditra yang tergabung dalam perangkat gamelan. Kata Saron merupakan metatetis (pergantian tempat huruf hidup atau huruf mati) dari kata Saron yang berarti suara nyaring atau keras (bahasa Jawa Tengah). Saron adalah waditra-waditra yang bersuara nyaring atau keras.
a. Memukul bilah Saron Untuk membunyikan nada-nada Saron di pergunakan alat pemukul yang di sebut Panakol Saron. Panakol Saron terbuat dari bahan kayu yang bentuknya hampir menyerupai palu. Panakol Saron di pergunakan oleh tangan sebelah kanan.
b. Menengkep (menekan bilah nada)
Menengkep yaitu menekan bilah-bilah Saron, agar bilah nada yang di pukul tidak terlalu lama bergetar. Menekan bilah Saron dilakukan jari tengah sebelah kiri.
c. Struktur dan Fungsi
Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah, disusun di atas penyangga yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain.
19
Cecempres bertugas sebagai rithem (patokan nada) yang menegaskan melodi Bonang, yang dipukul dengan pola yang konstan. Jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres, namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga saoktaf: kira-kira 1 oktaf). Tugas peking agak berbeda dari cecempres, yakni sebagai pengiring melodi. Apabila Jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan), maka peking terkesan lebih berimprovisasi. Peking biasa disebut sebagai pamanis lagu (Kubarsah, 2005, h. 85).
Gambar II. 5 Saron
(Sumber:Pribadi)
4. Suling
Suling adalah waditra jenis alat tiup yang terbuat dari bahan bambu berlubang (4,5 dan 6), yang dimainkan dengan cara ditiup. Suling dipergunakan
20
untuk membawakan melodi lagu, baik untuk mengiringi vokal (Tembang dan Kawih) maupun untuk dimainkan sendiri.
a. Bahan dan Rancang Bangun
Bahan yang baik untuk Suling adalah bambu tamiang yang telah berumur tua. Untuk memilih bahan Suling yang baik (cara tradisional), yaitu bambu yang telah tua umurnya direndam disungai selama satu minggu, kemudian disimpan ditempat yang panas. Bahan yang tidak pecah dinyatakan baik dan terpilih selanjutnya dipotong menurut ukuran yang diperlukan. Misalnya untuk Suling tembang sunda cianjuran antara 60-68 cm, kemudian dibuat lubang tiup dan yang terakhir membuat lubang nada.
b. Cara meniup Suling
Secara garis besar cara meniup Suling ada 3 macam yaitu, Tiupan lembut untuk membunyikan nada-nada rendah. Tiupan sedang untuk membunyikan nada-nada sedang. Tiupan keras untuk membunyikan nada-nada tinggi.
21
c. Menutup Lubang
Untuk Suling lubang enam, diperlukan enam buah jari yaitu 3 jari tangan kiri tempatkan dibagian lubang Suling atas, dan tiga jari tangan kanan ditempatkan dibagian lubang suara bawah. Ketiga jari baik tangan kanan maupun kiri itu adalah, telunjuk, jari tengah dan jari manis. Keenam jari dipergunakan membuka dan menutup seluruh lubang suara Suling.
d. Nama-nama bagian Suling Sirah adalah kepala Suling. Sumber adalah ikat kepala yang menutup dan membentuk lubang tiup. Awak adalah batang Suling. Liang Sora adalah Lubang-lubang nada yang ditutupi jari. Congo adalah ujung batang Suling (Kubarsah, 2005, h. 38).
Gambar II. 6 Suling
(Sumber:Pribadi)
22
5. Kendang
Kendang adalah waditra jenis alat tepuk terbuat dari kulit, yang dimainkan dengan cara ditepuk. Fungsinya sebagai pengatur irama lagu. Kendang merupakan waditra yang tergabung dalam perangkat gamelan.
Kendang biasa disebut Gendang, asal kata dari Ke dan Ndang (artinya Cepat) dalam bahasa Jawa. Pernyataan ini sesuai dengan fungsi waditra Kendang yaitu untuk mempercepat dan memperlambat irama. (kecuali dalam Gamelan Degung).
Berdasarkan ukuran bentuk terdapat 3 jenis waditra Kendang Sunda, antara lain:
1. Kendang Gede atau besar, dipergunakan dalam Kendang Penca sebagai iringan Pencak Silat.
2. Kendang Gending atau sedang, Kendang yang biasa dipergunakan dalam Wayangan, Kacapian dan lain-lain.
3. Kulanter adalah Kendang yang berukuran kecil. Kendang ini berperan untuk menambah variasi tabuhan Kendang sedang, sebab pemakaiannya tidak terlepas dari Kendang sedang.
a. Bahan dan Rancang Bangun Badan Kendang sebagai resonator terbuat dari bahan kayu yang dinamakan Kuluwung.
23
Bem Kendang adalah bagian lubang besar yang ditutupi lembar kulit yang terletak dibagian bawah sedangkan bidang berkulit kecil disebut Kempyang terletak dibagian atas Kendang. Wangkis adalah selaput kulit jangat binatang, penutup lubang kuluwung sebagai sumber bunyi. Rarawat adalah tali dari bahan baku rotan atau kulit jangat, sebagai alat untuk menegangkan wangkis. Pemasangan rarawat sangat khas rupa hingga disebut siki bonteng atau Wijen. Tali Rawir adalah tali dari bahan rotan atau kulit jangat untuk menutup bibir wangkis. Wengku adalah lingkaran rotan atau bambu yang dipasang dibagian ujung pangkal Kendang untuk menggulung wangkis. Anting-anting terbuat dari bahan logam (besi atau perunggu) berbentuk cincin untuk mengaitkan Tali Kendang. Nawa adalah lubang udara pada bagian badan Kendang, tempat keluarnya udara. Rehal adalah standar Kendang (ancak). Simpay adalah cincin dari kulit jangat untuk mengendurkan dan menegangkan tali rarawat.
24
b. Cara Memainkan
Meletakkan waditra Kendang besar, dengan cara dibaringkan diatas rehal. Kendang kecil diletakkan di samping kiri dan kanan Kendang besar. Pada dasarnya cara memainkan Kendang yaitu dengan cara ditepuk kedua telapak tangan. Telapak tangan sebelah kiri berfungsi untuk menepuk bagian Bem, sedang telapak tangan kanan menepuk bagian kempyang.
Suara-suara Kendang dibunyikan dengan cara: Bagian Bem Kendang ditekan tungkai kaki, untuk menghasilkan macam-macam variasi suara. Teknik pukulannya dilakukan dengan telapak tangan dan alat pemukul Kendang (Kubarsah, 2005, h. 72).
Gambar II. 7 Kendang
(Sumber:Pribadi)
6. Goong
Goong adalah waditra jenis alat pukul ber-penclon, terbuat dari bahan logam perunggu. Dibunyikan dengan cara dipukul oleh alat bantu pemukul dang menghasilkan
25
suara yang paling besar (rendah). Bunyi Goong berfungsi sebagai penutup setiap akhir kalimat lagu.
Kata Goong merupakan peniruan dari bunyi atau suara waditra-nya yang setiap dipukul berbunyi “Gong”. Goong mempunyai ukuran bentuk paling besar, jika dibandingkan dengan waditra ber-penclon lainnya, seperti Bonang, kenong, Jenglong, dan lain-lain.
a. Bahan dan Rancang Bangun
Goong Gantung terdiri dari Goong dan penggantungannya yang disebut kakanco.
Goong berbentuk bulat pipih, ber-penclon, yang terbuat dari perunggu. Ukuran diameter antara 90 cm s/d 105 cm.
b. Nama-nama Bagian Goong terdiri dari: Penclon
Penclon adalah kepala Goong yang terdapat ditengah-tengah (merupakan titik pusat lingkaran). Raray
Raray adalah merupakan muka Goong. Manis Raray
Adalah bagian yang memberi keindahan pada Goong yaitu yang mengelilingi raray.
26
Taktak
Bagian yang mengelilingi manis raray, sebagai penguat badan. Awak
Badan Goong yang berukuran tinggi antara 8-12 cm. Lalambe
Bibir Goong yang terletak dibagian bawah.
c. Cara Memainkan
Goong Gantung dipukul dengan alat talu, dipukulnya kearah pinggir, alat pemukul Goong berbentuk bulat pada bagian kepalanya, dibungkus oleh kain setelah ada benda empuk didalamnya. Alat tersebut digenggam oleh tangan kanan. Setelah itu dipukulkan kepada penclon Goong tersebut. Untuk memendekkan suara agar tidak terlalu panjang, maka tangan kiri dipergunakan untuk menahan (nangkep) bagian belakang, tepatnya penengkepan suara dilakukan oleh tangan kiri yang menekan bagian belakang penclon.
d. Struktur dan Fungsi
Goong yang terdiri dari 2 buah penclon, yakni kempul (Goong kecil) dan Goong (Goong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada penyangga. Kempul berada di sebelah kiri pemain,
27
sementara Goong di sebelah kanan pemain. Ambitus nada Goong sangat rendah,
Bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu.
Seperti halnya peking, waditra Kendang dan Suling juga merupakan tambahan. Pada awalnya Kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu ber-laras pelog/salendro, tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. Namun permainan Kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif. Begitupun dalam permainan Suling. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda, namun kedudukannya sama seperti vocal (Kubarsah, 2005, h. 94).
Gambar II. 8 Goong
(Sumber:http://yudhipri.files.wordpress.com/2010/06/gong_ageng.jpg)
28
2.4 Target Audience
Target audience adalah gabungan dari target market (orang-orang yang membutuhkan, memanfaatkan serta mampu membeli produk tersebut) dan ruang lingkup yang mempengaruhi target market baik secara langsung maupun tidak langsung. Berikut adalah penjelasan karakter target audience dari segi demografis, psikogafis, dan geografis.
1. Geografis
Secara geografis, target audience buku alat musik tradisional Degung Sunda adalah masyarakat yang tinggal di Bandung pada khususnya untuk mengetahui seputar informasi alat musik tradisional Degung Sunda yang berkembang di Bandung.
2. Demografis
Target audience dari buku alat musik tradisional Degung Sunda ini secara demografis adalah sebagai berikut :
Usia : 9-12 tahun
Pendidikan : Sekolah Dasar
Jenis Kelamin : Laki-laki dan perempuan
Target audience dari buku alat musik tradisional Degung Sunda adalah anak-anak usia 9 tahun sampai 12 tahun
3. Psikografis
Buku pengenalan alat musik tradisional Degung Sunda ini merupakan golongan menengah keatas yang memiliki ketertarikan terhadap alat musik tradisional Degung Sunda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar